44 Hari di Neraka, Kisah Pembunuhan Junko Furuta

44 Hari di Neraka, Kisah Pembunuhan Junko Furuta

44 Hari di Neraka, Kisah Pembunuhan Junko Furuta

 

44 Hari di Neraka, Kisah Pembunuhan Junko Furuta

Agen Tangkas Online : Junko Furuta merupakan seorang gadis sekolahan Jepang yang sangat cantik parasnya. Ia disukai semua orang namun juga banyak yang iri dan membencinya (teman sekelasnya) karena ia memiliki pekerjaan yang baik, top di kelasnya, dan menolak untuk merokok atau mabuk.

Ia menarik perhatian seorang lelaki yang bernama Hiroshi Miyano. Hiroshi Miyano sangat menyukai Junko namun ia merupakan penjahat yang memiliki koneksi dengan dunia kriminal di Jepang. Ia mengajak Junko berkencan dan Junko menolaknya dengan sopan. Hal ini membuat Hiroshi marah.

Suatu hari, saat Junko sedang mengendarai sepedanya dari tempat ia bekerja, Hiroshi dan temannya, Nobuharu Minato, sedang berjalan di sebuah taman, mencari perempuan untuk diperkosa dan dicopet. Mereka melihat Junko dan membuat rencana.

Pertama, Hiroshi menendang Junko dari sepedanya hingga terjatuh, lalu ia kabur. Nobuharu berpura-pura menjadi orang asing yang kebetulan lewat dan menolong Junko, menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Junko mempercayainya dan selagi mereka berjalan, Hiroshi muncul dan menarik lengan Junko yang berusia 19 tahun kabur.

Mereka membawa Junko ke sebuah gudang dimana mereka memerkosa Junko, lalu ke hotel terdekat dimana mereka memerkosanya kembali. Dari hotel tersebut, Hiroshi menelepon kedua temannya, Jo Kamisaku dan Yasushi Watanabe untuk memamerkan perbuatannya.

Kedua teman Hiroshi meminta kepadanya agar bergantian memerkosa Junko. Mereka membawa Junko ke taman pada pukul 3 pagi dimana Jo dan Yasushi sedang menunggu. Mereka memberitahu Junko bahwa mereka tau dimana ia tinggal dari sebuah buku catatan di tasnya dan berkata apabila Junko berusaha kabur, mereka akan membunuh keluarganya. Mereka kemudian membawa Junko ke rumah Nobuharu lalu memerkosanya kembali.

Pada 27 November 1988, 2 Hari setelah penculikannya, orangtua Junko melaporkan kehilangannya. Para penculik Junko memaksanya untuk menelepon kedua orang tuanya dan berkata ia kabur dari rumah namun ia aman. Mereka juga memaksanya untuk memerintahkan polisi berhenti mencarinya.

Ketika orangtua Nobuharu berada dekat dengan mereka, Junko dipaksa mengaku sebagai pacar Nobuharu, mereka kemudian menghentikan aksi ini ketika mereka sadar bahwa orangtua Nobuharu tidak akan menelepon polisi karena mereka takut dengan anaknya sendiri yang sejak dulu telah menunjukkan kekerasan ekstrim kepada mereka (orangtua).

Diklaim bahwa lebih dari 100 orang mengetahui kehadiran Junko di rumahnya dan aksi kriminal yang sedang dilakukan namun tak seorang pun membuka mulut, termasuk anggota kriminal yang diundang untuk memerkosa Junko, Junko ditahan di rumah tersebut selama 40 hari, hal yang terjadi :

Ia diperkosa lebih dari 400 kali dengan brutal, disiksa, kelaparan, digantung di langit-langit rumah, dijadikan samsak tinju, perutnya dijatuhi barbel, dipaksa memakan kecoa dan meminum air seninya sendiri, dipaksa untuk masturbasi di depan para lelaki. Benda-benda asing dimasukkan ke dalam tubuhnya, seperti lampu bohlam yang masih menyala yang dimasukkan ke vaginanya, kembang api yang dinyalakan di vagina, anus, mulut dan juga telinganya. Klitoris, vagina, dan kelopak matanya dibakar dengan rokok, lilin, mancis, dan puting kirinya di putuskan menggunakan sebuah tang. Salah satu teman si penculik datang kerumah dimana ia mengaku bahwa ia di bully karena memerkosa Junko. Ia pulang dan memberitahu kakak laki-lakinya tentang insiden tersebut, sang kakak kemudian menelepon polisi, 2 polisi diutus kerumah Nobuharu.

Para polisi bertanya tentang keberadaan Junko, mereka diajak masuk ke rumah untuk memeriksa, namun mereka menganggap ajakan tersebut sebagai bukti bahwa tidak ada gadis di rumah itu, apabila para polisi masuk, Junko akan selamat setelah hanya 16 hari. Pada awal bulan Desember, Junko menyelinap untuk menelepon polisi namun tepergok sebelum ia melakukan apapun, ia dihukum dengan kakinya ditenggelamkan dalam cairan minyak dan dibakar, botol yang lebih besar juga dimasukkan ke dalam anusnya. Selama hal tersebut berlangsung, ia mengalami ledakan (karena pergerakan yang janggal pada ototnya). Mereka mengira ia memalsukannya sehingga ia memasukkan ke cairan lebih berat, ia selamat dan kembali diperkosa dan disiksa. (Di bawah adalah kondisi kaki Junko).

Junko memohon kepada mereka untuk “membunuhnya” saja, namun mereka malah membuatnya tidur di balkon yang penuh salju dan menguncinya di freezer, semua badan nya sangat pincang karena siksaan tersebut sehingga salah satu dari mereka mengaku di persidangan bahwa butuh 1 jam bagi Junko untuk merangkak di tangga untuk menuju ke bawah. Karena siksaan yang brutal, Junko kehilangan kontrol atas ususnya dan disiksa dengan konstan karena membasahi karpet, ia tidak dapat mencerna makanan atau minuman dan memuntahkan semua yang ia konsumsi, ia juga disiksa karena hal ini. Tubuh Junko sudah sangat hancur dan wajahnya sangat bengkak, ia mulai mengeluarkan bau busuk dan karena hal ini sang lelaki kehilangan ketertarikan seksual dan memerkosa gadis lain yang berusia 19 tahun yang sedang berjalan pulang.

Pada 4 Januari 1989, mereka menanyang Junko bermain Mahjong dimana ia menang, hal ini membueat mereka marah sehingga mereka menyiksanya dengan menjatuhkan barbel dan bola-bola obat ke perutnya dan membakarnya lagi, ia berusaha memadamkan api namun usahanya membuat dirinya meledak, ia kemudian meninggal di hari yang sama. Mereka membungkus tubuhnya dengan selimut dan meletakkannya dalam tong minyak yang mereka isi dengan semen. Mereka kemudian membuah tong tersebut ke truk semen di Koto, Tokyo.

Pada 20 Januari 1989, Hiroshi dan Jo ditahan atas penculikan dan pemerkosaan terhadap gadis yang mereka serang di bulan Desember (bukan Junko). Pada 29 Maret, 2 polisi menginterogasi Hiroshi, ketika mereka menemukan pakaian dalam wanita di rumahnya. Mereka menanyakan Hiroshi tentang pembunuhan sang gadis. Hiroshi mengira mereka membicarakan tentang Junko dan memberitahunya dimana mereka dapat menemukan tubuh Junko, mengira Jo pasti sudah mengaku. Para polisi tidak mengerti apa yang dimaksud Hiroshi namun Hiroshi secara tidak langsung mengakui kejahatan yang telah ia lakukan terhadap Junko, para polisi kemudian menahan Nobuharu dan Yasushi.

Hiroshi dijatuhkan hukuman 20 tahun penjara dan keluarganya mengirimkan 50 juta yen ($425,000) kepada orangtua Junko sebagai permohonan maaf atas tindakan anak mereka.

Nobuharu berusia 16 tahun pada waktu itu dan mendapat hukuman 5-9 tahun. Keluarganya tidak dihukum atas peran mereka dalam tindak kriminal tersebut dan Nobuharu dibebaskan. Ia belum mendapat pekerjaan sejak pembebasannya.

Yasushi mendapat hukuman 5-7 tahun. Ia berusia 17 tahun pada saat ia melakukan tindak kriminal tersebut. Setelah dibebaskan, ia menikah.

Jo mendapat hukuman 8 tahun. Ia berusia 17 tahun pada saat itu. Setelah dibebaskan, ia membanggakan tindak kriminalnya terhadap Junko dan menculik orang lain yang ia siksa secara brutal dan diancam dibunuh. Ibu Jo merusak kuburan Junko, mengatakan bahwa ia merusak hidup anaknya.

Masing-masing dari para pelaku diberikan hukuman yang sangat ringan ayas tindakan mereka karena usia mereka 18 tahun atau lebih muda. Penguburan Junko diadakan pada April 1989. Pada penguburannya, Junko diberi diploma agar ia juga bisa lulus bersama teman-temannya. Ia bekerja paruh waktu saat ia masih hidup dan majikannya memberi seragam pada peti jenazahnya yang seharusnya diberikan kepada pekerja full time sebagai bentuk penghargaan terhadap Junko. Ibu Junko menderita di bawah gangguan mental karena kehilangan putrinya dan menghabiskan waktu yang lama di pusat rehabilitasi kesehatan mental.

Junko ketika masih hidup.

Baca juga : Teori Di Balik Tenggelamnya Kapal Titanic

 

Shares